SIMPUL - Sekolah Demokrasi (SD) pertemuan 16 dilaksanakan tanggal 07-08 November 2009, bertempat di Kampung Wisata Kungkuk Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu dengan narasumber Anita Lie, salah satu pengurus NSC di Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID), dan M. Ikhsan, direktur Eksekutif Lembaga Satu Indonesia.Peserta Sekolah Demokrasi di minta untuk mendiskusikan dan merumuskan hasil temuan-temuan yang ada di lapangan untuk di presentasikan di depan forum, seperti kelompok Mbak Dwi Nawangwulan yang mempresentasikan komunitas petani bunga mawar, dengan berbagai temuan-temuannya seperti Obat/pupuk dan mes (fertilizer) harganya sangat mahal, sementara panen sedikit, artinya hasil produksi petani tidak lagi bisa menyukupi untuk biaya perawatan tanam, Penyemprotan dilakukan 1 atau dua kali dalam seminggu, Sulitnya menentukan obat yang tepat bagi hama yang dimaksud artinya selama ini petani banyak melakukan pengobatan dengan cara trial and error, Alternative mengobati cabuk batang (salah satu hama batang) adalah dengan mengolesi olie dengan diterjen, sehingga tanaman rusak dan juga meskipun olie murah tetapi tidak berarti biaya menjadi murah (butuh tenaga pengoles cukup banyak dan ini berarti biaya tinggi atau dibituhkan waktu yang cukup lama dan ini berarti juga biaya tinggi), Jika dulu harga relative stabil karena penjual masih bisa membawa panen bunganya ke pasar tetapi sekarang harga sangat fluktuatif karena banyak pembeli personal yang bisa menentukan harga sendiri disertai pembayaran yang tidak selalu lancar, Tidak adanya penyuluhan dan pembinaan dari dinas terkait dalam membudidayakan bungah mawar.
Narasumber M. Ikhsan, direktur Eksekutif Lembaga Satu Indonesia, mendiskusikan dan mengarahkan hasil temuan peserta Sekolah Demokrasi di lapangan, narasumber memberikan materi tentang bagaimana menemukan masalah sesungguhnya yang di hadapi oleh masyarakat. Menurutnya, fakta diartikan sebagai pernyataan/statemem terhadap seluruh realita yang ada di dalam masyarakat. Dasar dari pernyataan tersebut adalah pengalaman indrawi atau hasil temuan di lapangan dalam menyerap realita. Dengan demikian ada batas yang tegas tentang fakta, yaitu batas empiris. Pernyataan-pernyataan lain di luar batas empiris ini yang sering juga disebut sebagai pendapat, dinamakan opini.
Narasumber juga memberikan bagaimana cara-cara menganalisa masalah. Menurutnya, ada tiga cara untuk menganalisa sebuah malasah. Pertama, identifikasi masalah. Masalah-masalah yang berupa fakta diidentifikasi, kemudian diferifikasi, baik masalah-masalah yang berkaitan dengan teknis distribusi sumber-sumber daya (resources), maupun masalah-masalah yang berkaitan dengan sikap dan karakteristik manusia sebagai makhulk sosial.
narasumber memberikan tugas kepada tiga kelompok yang telah mengidentifikasi dan menemukan akar masalah yang sudah ditemukan kelompok saat melakukan penelitian di lapangan yang telah disampaikan pada sesi pertama. Tugas ini diberikan kepada peserta supaya bisa mengidentifikasi akar masalah yang telah ditemukan di masing-masing situs penelitian. Sehingga jika telah ditemukan akar masalahnya maka para peserta Sekolah Demokrasi dalam menyusun rencana tindak lanjut (RTL) hasil penelitin di lapangan akan mengenai pada sasaran dan bisa memberikan solusi kepada masyarakat terhadap persoalan yang mereka hadapi.
Ibu Anita Lie, salah satu pengurus NSC di Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID). Memang pada sesi ini diagendakan untuk mengenal lebih dekat dengan lembaga KID sebagai salah satu mitra Averroes Community dan KID lah yang mempunyai program Sekolah Demokrasi.
Ibu Anita Lie pertama kali memberikan penjelasan tentang kronologi adanya program Sekolah Demokrasi. Menurutnya, bahwa Program Sekolah Demokrasi ini dibiayai oleh salah satu lembaga di Belanda yaitu NIMD. Lembaga itu didirikan oleh sekumpulan partai-partai besar yang ada di Belanda yang peduli dengan terlaksananya demokratisasi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Lembaga NIMD menyumbangkan beberapa uangnya untuk kepentingan menyebarluaskan nilai-nilai demokrasi. Jadi NIMD tidak meminta kopensansi apapun, yang diperketat adalah masalah keuangan.
Sedangakan KID, menurut narasumber, adalah lembaga yang ada di Indonesia yang diberi kepercayaan untuk melaksanakan Program Sekolah Demokrasi oleh NIMD. Kenapa Sekolah Demokrasi? Pertanyaan itu memang sempat ditanyakan oleh NIMD, karena NIMD meminta program penguatan kepada partai politik. Menurut Anita, Sekolah Demokrasi ini dipilih berdasarkan teori yang diungkapkan oleh Habermas, bahwa demokrasi itu tidak terlepas dari persoalan partisipasi. Sedangkan partisipasi itu berkaitan dengan dua hal yaitu kuantitas partisipasi dan kualitas partisipasi. Jadi Sekolah Demokrasi itu dipilih adalah untuk meningkatkan kualitas partisipasi di kalangan masanyakat (red. Iwan Irawan Wijaya).
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















