SIMPUL - Kegiatan Sekolah Demokrasi pertemuan II dimulai pada Sabtu, 15 April 2006 yang langsung dimulai sesi pertama ‘Konsep Kewarganegaraan dalam Kehidupan Bernegara Bangsa’ dan ‘Pasang Surut Peran Negara dan Masyarakat Warga’ dengan narasumber Dr. Haryono dari Universitas Negeri Malang (UM).
Kegiatan Sekolah Demokrasi pertemuan II dimulai pada Sabtu, 15 April 2006 yang langsung dimulai sesi pertama ‘Konsep Kewarganegaraan dalam Kehidupan Bernegara Bangsa’ dan ‘Pasang Surut Peran Negara dan Masyarakat Warga’ dengan narasumber Dr. Haryono dari Universitas Negeri Malang (UM).Dalam sesi ini, narasumber mengajak peserta untuk melakukan diskusi mengenai konsepsi kewarganegaraan serta bagaimana peran warga negara sebagai civil society untuk mengawal pemerintahan dalam menjalankan kekuasaan negara.
Sesi kedua dimulai setelah ishoma. Dalam sesi ini terjadi perpindahan materi diskusi. Awalnya, sesi kedua akan dilakukan jigsaw untuk topik ‘Fungsi Etika dan Profesionalisme dalam Proses Demokratisasi Bangsa’, namun karena pada malam hari peserta akan diajak untuk dinner out, maka sesi kedua ditukar dengan ‘Prinsip-Prinsip dan Tata Kepemerintahan yang Baik’ dengan narasumber Dr. Andi Fefta dari Universitas Brawijaya. Dalam sesi ini, narasumber memaparkan mengenai good governance dan prinsip-prinsipnya yang berjumlah 14, yakni: visionary, opennes and transparancy, participation, accountability, rule of law, democracy, profesionalism and competency, responsiveness, efficiency and effectiveness, decentralization, private and civil society partnership, commitment to reduce inequality, commitment to environmental protection, commitment to fair market. Sedangkan peserta lebih banyak mengajukan tanggapan berupa pertanyaan bagaimana konsepsi good governance dapat diimplementasikan di Indonesia dan daerah.
Setelah istirahat dan sholat, peserta melakukan diskusi kelompok ‘Fungsi Etika dan Profesionalisme dalam Proses Demokratisasi Bangsa’. Diskusi ini dilakukan dengan mengambil model jigsaw dan model shopping around. Karena keterbatasan waktu, diskusi diakhiri pada pukul 20.00 kurang seperempat karena harus menuju ke warung ‘Ayam Bakar Pak Sholeh’ untuk acara dinner out.
Pada hari kedua, Minggu 16 April 2006, acara dimulai pada pukul 8.15 dengan kegiatan melanjutkan kembali materi ‘Fungsi Etika dan Profesionalisme dalam Proses Demokratisasi Bangsa’. Dalam sesi ini, peserta diajak oleh fasilitator untuk melakukan games shopping around dan mengambil review dari proses yang telah dilakukan pagi itu dan malam sebelumnya.
Sesi keempat adalah sesi Visi Demokrasi dan Masyarakat Warga Indonesia dengan narasumber Prof. Soetandyo Wignjosoebroto. Dalam sesi ini, Prof. Tandyo memaparkan mengenai prinsip demokrasi, warga negara dan HAM. Pemaparan Prof. Tandyo lebih merupakan review terhadap isi modul “Perkembangan Pemikiran dan Praktik Demokrasi” secara keseluruhan.
Setelah sesi keempat selesai, peserta diajak oleh Hesty untuk menentukan kriteria Bupati ideal melalui role playing pilkada Kabupaten esDeDe. Sesi ini merupakan penyesuaian untuk materi penentuan camat teladan seperti yang terdapat dalam modul Sekolah Demokrasi 001. Pada sesi ini, peserta diminta untuk menuliskan kriteria-kriteria bupati teladan serta diajak untuk mengegolkan calon masing-masing sebagai bupati.
Setelah sesi role playing Pilkada Kabupaten esDeDe, peserta diajak untuk melakukan evaluasi sekaligus pembahasan terhadap hasil kunjungan lapangan I di Dusun Lowokjati Desa Baturetno Kecamatan Singosari. Setelah bersama-sama mengurai dan menganalisis masalah, secara bersama-sama peserta diajak untuk memikirkan langkah berikutnya dari persoalan yang menjadi studi kasus. Sebagian besar peserta setuju bahwa Program Penguatan Simpul Demokrasi belum perlu untuk melakukan langkah-langkah advokasi terlalu jauh karena komunitas peserta Sekolah Demokrasi masih belum begitu solid. Hingga, pada akhir acara disepakati bahwa akan diadakan sebuah forum dialog yang mempertemukan para stakeholder persoalan yang sedang dihadapi, yang secara teknis akan difasilitasi oleh Averroes.
Berakhirnya sesi RKTL tersebut menjadi akhir dari kegiatan Sekolah Demokrasi pertemuan II. Peserta kemudian beranjak pulang sambil menenteng tas Program Penguatan Simpul Demokrasi di Kabupaten Malang yang telah dibagikan.
Sesi kedua dimulai setelah ishoma. Dalam sesi ini terjadi perpindahan materi diskusi. Awalnya, sesi kedua akan dilakukan jigsaw untuk topik ‘Fungsi Etika dan Profesionalisme dalam Proses Demokratisasi Bangsa’, namun karena pada malam hari peserta akan diajak untuk dinner out, maka sesi kedua ditukar dengan ‘Prinsip-Prinsip dan Tata Kepemerintahan yang Baik’ dengan narasumber Dr. Andi Fefta dari Universitas Brawijaya. Dalam sesi ini, narasumber memaparkan mengenai good governance dan prinsip-prinsipnya yang berjumlah 14, yakni: visionary, opennes and transparancy, participation, accountability, rule of law, democracy, profesionalism and competency, responsiveness, efficiency and effectiveness, decentralization, private and civil society partnership, commitment to reduce inequality, commitment to environmental protection, commitment to fair market. Sedangkan peserta lebih banyak mengajukan tanggapan berupa pertanyaan bagaimana konsepsi good governance dapat diimplementasikan di Indonesia dan daerah.
Setelah istirahat dan sholat, peserta melakukan diskusi kelompok ‘Fungsi Etika dan Profesionalisme dalam Proses Demokratisasi Bangsa’. Diskusi ini dilakukan dengan mengambil model jigsaw dan model shopping around. Karena keterbatasan waktu, diskusi diakhiri pada pukul 20.00 kurang seperempat karena harus menuju ke warung ‘Ayam Bakar Pak Sholeh’ untuk acara dinner out.
Pada hari kedua, Minggu 16 April 2006, acara dimulai pada pukul 8.15 dengan kegiatan melanjutkan kembali materi ‘Fungsi Etika dan Profesionalisme dalam Proses Demokratisasi Bangsa’. Dalam sesi ini, peserta diajak oleh fasilitator untuk melakukan games shopping around dan mengambil review dari proses yang telah dilakukan pagi itu dan malam sebelumnya.
Sesi keempat adalah sesi Visi Demokrasi dan Masyarakat Warga Indonesia dengan narasumber Prof. Soetandyo Wignjosoebroto. Dalam sesi ini, Prof. Tandyo memaparkan mengenai prinsip demokrasi, warga negara dan HAM. Pemaparan Prof. Tandyo lebih merupakan review terhadap isi modul “Perkembangan Pemikiran dan Praktik Demokrasi” secara keseluruhan.
Setelah sesi keempat selesai, peserta diajak oleh Hesty untuk menentukan kriteria Bupati ideal melalui role playing pilkada Kabupaten esDeDe. Sesi ini merupakan penyesuaian untuk materi penentuan camat teladan seperti yang terdapat dalam modul Sekolah Demokrasi 001. Pada sesi ini, peserta diminta untuk menuliskan kriteria-kriteria bupati teladan serta diajak untuk mengegolkan calon masing-masing sebagai bupati.
Setelah sesi role playing Pilkada Kabupaten esDeDe, peserta diajak untuk melakukan evaluasi sekaligus pembahasan terhadap hasil kunjungan lapangan I di Dusun Lowokjati Desa Baturetno Kecamatan Singosari. Setelah bersama-sama mengurai dan menganalisis masalah, secara bersama-sama peserta diajak untuk memikirkan langkah berikutnya dari persoalan yang menjadi studi kasus. Sebagian besar peserta setuju bahwa Program Penguatan Simpul Demokrasi belum perlu untuk melakukan langkah-langkah advokasi terlalu jauh karena komunitas peserta Sekolah Demokrasi masih belum begitu solid. Hingga, pada akhir acara disepakati bahwa akan diadakan sebuah forum dialog yang mempertemukan para stakeholder persoalan yang sedang dihadapi, yang secara teknis akan difasilitasi oleh Averroes.
Berakhirnya sesi RKTL tersebut menjadi akhir dari kegiatan Sekolah Demokrasi pertemuan II. Peserta kemudian beranjak pulang sambil menenteng tas Program Penguatan Simpul Demokrasi di Kabupaten Malang yang telah dibagikan.
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















