SIMPUL - Kegiatan Talkshow Televisi “Gardu Demokrasi” III Program Sekolah Demokrasi Kota Batu 2010 di Agropolitas Televisi (ATV) dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 04 Maret 2010, pukul 16.00–17.00 WIB live. Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah “Prospek dan perspektif desa wisata di Kota Batu”.
Kegiatan ini diawali dengan pengantar dengan adanya penampilan berbentuk fragmen yang menggambarkan tentang kesulitan ekonomi masyarakat di desa, sehingga adanya perdebatan antar penduduk sendiri tentang bagaimana dapat mensiasati untuk meningkatkan tambahan perekonomian masyarakat.
Sehingga, ada saran untuk mengembangkan menjadi desa wisata dengan pengelolaan masyarakat sendiri berdasarkan potensi wilayah yang dimiliki. Presenter cukup mempertegas dari diskusi fragmen tersebut dan dikembangkan menjadi sebuah musyawarah yang penuh dengan etika dan kekeluargaan dengan melibatkan semua komponen masyarakat. Mulai dari rakyat, pemangku kebijakan, pengelola desa wisata dan pemprakarsa.
Narasumber pertama, Naseh menjelaskan bahwa desa wisata adalah kawasan wisata pedesaaan yang bisa dikembangkan dari pertanian, perkebunan, perikanan, seni dan budaya. Kawasan yang asrim sejuk dan indah. Desa wisata potensi untuk kembangkan desa wisata. Konsep bukan merubah kebiasaan desa. Konsep dikembangne iso dikembangne dewe. Misal, turis ke Batu tuku kembang iso langsung tuku nang petanine. Di Bumiaji langsung metik dari pohonnya, pengunjung punya kesan. Turis sekarang lebih tertarik pada wisata desa, lebih menyenangkan, alami dan murah. 9 th 1999 ada UU ttg kepariwisataan. Masyarakat berhak seluas-luasnya untuk pengembangn wiosata, ini kesempatan emas. Pembuatan wisata buatan dimodal oleh investror asing. Jika ini benar-benar serius maka akan terwujud. Peran pemrintah perlu sekali. Kita untuk mewujudkan, harus sesuai tat ruang. Perlu diadakan kelompok penyadaran desa wisata
Narasumber, kedua menambahkan bahwa Eko Yudioanto, bahwa yang harus dipersiapkan dalam merencanakan kawasan / desa wisata adalah sumber daya masusia. Jika hanya sekelompok orang yang mempersiapkan dan tidak menyangkut masyarakat sekitar juga kurang baik. Yang perlu diperhatikan adalah potensinya, meliputi budaya, masyarakat dan lingkungan. Kota Batu banyak potensi wisata tapi kurang digali. Kita yang mengawali jangan menggantung pada pemerintah. Yang penting kita merubah pola masyarakat desa menjadi sadar wisata, pemetaan potensi apa saja yang mendukung terutama tokoh masyarakat dan kalangan muda, pelatihan sangat kita butuhkan. Atraksi tentu saja butuh, cerita-cerita masyarakat setempat juga penting. Itu potensi yang bisa kita gali. Desa memang butuh infraktruktur seperti akses jalan. Setelah itu kita menginjak ke pemasaran. Kita bekerjasama dengan travel agent di Indonesia.
Narasumber berikutnya menambahkan, Suwito Pamungkas selaku pengelola desa Wisata Kungkuk, awalnya tidak percaya, karena untuk membuat wisata membutiuhkan modal besar. Setelah saya paham tidak hanya itu. Banyak masyarakat desa yang tidak tahu potensi yang bisa dijadikan wisata. Dari Kukngkuk bisa melihat matahari terbit, terbenam, sekolah alam, memetik apel langsung, Itu memang dari wisatawan yang dating senang. Dan juga ada outbong langsung di alam. Walaupun belum ada bangunan yang megah, namun bisa dijual potensi yang sudah ada. Karena tidak menyadari di kampung banyak potensi.
Narasumber berikutnya, Bambang GW, menjelaskan bahwa Gardu Demokrasi berkaitan dengan meneguhkan edaulatan rakyat dan tergantung masyarakat dalam membangun inisiatif terhadap dirinya. Bapak Ibu yang sudah menggagas desa wisata merupakan sebuah kedaulatan rakyat yang mengagumkan. Respon pemerintah harus menunjukkan dukungan, kebijakan yang dilahirkan harus memberikan dukungan riil serta promosi dari pemerintah. Modal utama adalah modal social yaitu kesadaran kolektif, semangat gotong royong yang diyakini bisa menjawab persoalan. Terkait Indonesia visit year. Tahun 2010 membuat 200 desa wisata. DPR baik eksekutif dan legislative jika tidak mendukung maka program ini tidak nyambung. Terkait perijinan, respon masyarakat belum karena belum ada peraturan daerah tentang perijinan desa wisata. Dan dilanjutnya dengan narasumber lainnya, Pak Syamsul, Bu Tutik, Bu Dini, Bu Ninik, yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi.
Dilanjutkan dialog interaksi, antara lain : 1). Wahyunanto, di Malang, menyakan bahwa apa saja yang menjadi syarat uatam ayng harus dicukui dalam membangun dedsa wisata, sejauh mana peran pemerintah Batu sampai hari ini?. 2). Haryo Susanto, di Batu. Saran untuk desa wisata mestinya dikasi pos untuk penerangan. Untuk sodara saya di Kungkuk itu saudara saya yang memakai udeng. Sarannya buatkan pos informasi. Saya salut terhadap desa wisata yang perlu dilestarikan. Untuk narasumber perlu ditambahkan bagaiman mengelola paling efektif.
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





