SIMPUL - Talkshow Batu TV 7 dilaksanakan pada 31 Oktober 2007. Tema dalam talkshow ini sebagai upaya refleksi dari peringatan hari sumpah pemuda 28 Oktober yang lalu. Ini dirasa sangat penting untuk dikaji kembali mengingat banyak generasi muda kita yang tidak memahami sejarah peringatan tersebut...
Talkshow Batu TV 7 dilaksanakan pada 31 Oktober 2007. Tema dalam talkshow ini sebagai upaya refleksi dari peringatan hari sumpah pemuda 28 Oktober yang lalu. Ini dirasa sangat penting untuk dikaji kembali mengingat banyak generasi muda kita yang tidak memahami sejarah peringatan tersebut. Realitas sosial saat ini telah menampakkan bahwa dikalangan generasi muda terjadi degradasi nasionalisme. Sebagai contoh, masih maraknya tawuran antar pelajar/mahasiswa, terlibat narkoba, sex bebas, dan lain sebagainya.
Narasumber pertama, Ahmad Murjoko menjelaskan bahwa kondisi di masyarakat saat ini memang sangat memprihatinkan khusunya dalam hal pola perilaku masyarakat. Kondisi saat ini memungkinkan kepada semua orang untuk hidup secara prakmatis. ‘Pokoknya’ dapat uang untuk makan, membiayai keluarga, dan kebutuhan lainnya. Inilah yang menurutnya akan terjadi perubahan paradigma dalam hidup, termasuk tentang rasa menjadi bagian dari bangsa ini.
Narasumber kedua, Puji Hariwati meninjau tinjau dari aspek teoritik nasionalisme mempunyai arti rasa cinta terhadap bangsa dan negara. Untuk itu dalam dunia pendidikan sangat penting untuk ditekankan tentang nasionalisme tersebut. Melalui pendidikan, sebanarnya mempunyai keefektifan tersendiri untuk memasukkan jiwa–jiwa nasionalisme tersebut. Sehingga, kurikulum hendaknya mampu mengkaver kebutuhan untuk menanamkan nasinalisme pada generasi bangsa.
Narasumber ketiga, Bambang Herry Eriono menegaskan bahwa banyak program-program pemerintah dalam mendidik generasi bangsa/pemuda, dengan diadakannya pelatihan-pelatihan, pembinaan karang taruna, dan organisasi kepemudaan yang lainnya. Untuk itu, pemerintah masih mempunyai komitmen besar dalam menjaga keberlangsungan bangsa ini. Namun, perlu diketahui pula bahwa pemerintah tidak bisa berniat sendirian, melainkan sangat perlu adanya kebersamaan dari seluruh komponen masyarakat, termasuk LSM, Ormas, Partai Politik, Kalangan bisnis, dan komponen lainnya.
Ada beberapa interaksi dari masyarakat, yaitu: 1). Sani dari Malang menegaskan bahwa nasionalisme harus dibangun dari para pejabat pemerintah maupun politik. Karena merekalah yang semestinya menjadikan teladan bagi masyarakat. Jika para pejabat justru memberikan teladan yang tidak baik, maka pasti masyarakat akan menirunya. Sebagai contoh, maraknya korupsi, dan menghambur-hamburkan uang rakyat dengan memaksakan kegiatan. 2). Fahruddin menyesalkan permasalahan mendasar menurunnya nasionalisme kita adalah perekonomian yang tidak pasti serta tingkat ekonomi masyarakat yang rendah. Nah, untuk itu yang terpenting bagi para birokrat untuk memperhatikan aspek ekonomi rakyat. 3). Ibu Patmi dengan semangat menghimbau bahwa nasionalisme itu harus dimulai dari tingkat keluarga. Jika di dalam keluarganya baik, maka di masyarakat tentunya akan baik. Dan sebaliknya jika di keluarga kacau maka di masyarakatpun akan kacau pula. Untuk itu, ia meyakini bahwa keluarga mempunyai peran yang sangat penting, termasuk di dalamnya menumbuhkan jiwa nasionalisme terhadap bangsa dan negara.
4). Rudi dari Margosono berkeyakinan pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme bagi generasi bangsa. Jika dari aspek pendidikannya lemah, maka yang terjadi adalah justru penurunan nasionalisme tersebut. Seperti halnya, terus berubah-ubahnya kurikulum atau sistem pendidikan lainnya maka akan sangat berpengaruh bagi anak didik. Saya hanya berharap bahwa kurikulum pendidikan harus diperhatikan khususnya pada aspek kecintaan kepada bangsa dan negara. 5). Nur dari Bandulan menyayangkan saat ini memang krisis multi dimensi kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Di dunia pendidikan sangat diharapkan adanya keteladanan dari seorang guru, namun saat ini keteladanan itu telah hilang.
Narasumber pertama, Ahmad Murjoko menjelaskan bahwa kondisi di masyarakat saat ini memang sangat memprihatinkan khusunya dalam hal pola perilaku masyarakat. Kondisi saat ini memungkinkan kepada semua orang untuk hidup secara prakmatis. ‘Pokoknya’ dapat uang untuk makan, membiayai keluarga, dan kebutuhan lainnya. Inilah yang menurutnya akan terjadi perubahan paradigma dalam hidup, termasuk tentang rasa menjadi bagian dari bangsa ini.
Narasumber kedua, Puji Hariwati meninjau tinjau dari aspek teoritik nasionalisme mempunyai arti rasa cinta terhadap bangsa dan negara. Untuk itu dalam dunia pendidikan sangat penting untuk ditekankan tentang nasionalisme tersebut. Melalui pendidikan, sebanarnya mempunyai keefektifan tersendiri untuk memasukkan jiwa–jiwa nasionalisme tersebut. Sehingga, kurikulum hendaknya mampu mengkaver kebutuhan untuk menanamkan nasinalisme pada generasi bangsa.
Narasumber ketiga, Bambang Herry Eriono menegaskan bahwa banyak program-program pemerintah dalam mendidik generasi bangsa/pemuda, dengan diadakannya pelatihan-pelatihan, pembinaan karang taruna, dan organisasi kepemudaan yang lainnya. Untuk itu, pemerintah masih mempunyai komitmen besar dalam menjaga keberlangsungan bangsa ini. Namun, perlu diketahui pula bahwa pemerintah tidak bisa berniat sendirian, melainkan sangat perlu adanya kebersamaan dari seluruh komponen masyarakat, termasuk LSM, Ormas, Partai Politik, Kalangan bisnis, dan komponen lainnya.
Ada beberapa interaksi dari masyarakat, yaitu: 1). Sani dari Malang menegaskan bahwa nasionalisme harus dibangun dari para pejabat pemerintah maupun politik. Karena merekalah yang semestinya menjadikan teladan bagi masyarakat. Jika para pejabat justru memberikan teladan yang tidak baik, maka pasti masyarakat akan menirunya. Sebagai contoh, maraknya korupsi, dan menghambur-hamburkan uang rakyat dengan memaksakan kegiatan. 2). Fahruddin menyesalkan permasalahan mendasar menurunnya nasionalisme kita adalah perekonomian yang tidak pasti serta tingkat ekonomi masyarakat yang rendah. Nah, untuk itu yang terpenting bagi para birokrat untuk memperhatikan aspek ekonomi rakyat. 3). Ibu Patmi dengan semangat menghimbau bahwa nasionalisme itu harus dimulai dari tingkat keluarga. Jika di dalam keluarganya baik, maka di masyarakat tentunya akan baik. Dan sebaliknya jika di keluarga kacau maka di masyarakatpun akan kacau pula. Untuk itu, ia meyakini bahwa keluarga mempunyai peran yang sangat penting, termasuk di dalamnya menumbuhkan jiwa nasionalisme terhadap bangsa dan negara.
4). Rudi dari Margosono berkeyakinan pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme bagi generasi bangsa. Jika dari aspek pendidikannya lemah, maka yang terjadi adalah justru penurunan nasionalisme tersebut. Seperti halnya, terus berubah-ubahnya kurikulum atau sistem pendidikan lainnya maka akan sangat berpengaruh bagi anak didik. Saya hanya berharap bahwa kurikulum pendidikan harus diperhatikan khususnya pada aspek kecintaan kepada bangsa dan negara. 5). Nur dari Bandulan menyayangkan saat ini memang krisis multi dimensi kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Di dunia pendidikan sangat diharapkan adanya keteladanan dari seorang guru, namun saat ini keteladanan itu telah hilang.
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















