SIMPUL - Talkshow Radio 6 yang di presenteri oleh Buang Supeno, on air langsung di alun-alun Kota Batu mengangkat tema tentang “Fenomena Golput bagi dalam Pemilu 2009 Kota Batu”. Ini sebagai upaya untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Kota Batu, dalam mendorong dan mensukseskan Pemilu yang akan datang. Selain talkshow secara on air, anggota KPU Kota Batu juga mensosialisasikan pemilu legislatif dengan membagikan brosur cara mencoblos yang benar kepada pengunjung yang ada di alun-alun Kota Batu.
Sebagai pembicara dalam talkshow radio ini adalah Teguh Triwiyanto, akademisi dari Universitas Negeri Malang (UM) dan peserta Sekolah Demokrasi Kota Batu; Fitri Nurhayati,
anggota Suara Perempuan Desa (SPD) Kota Batu dan peserta Sekolah Demokrasi Kota Batu; Fajar Santosa, Parlemen Watch Indonesia (Parwi) dan peserta Sekolah Demokrasi Kota Batu.
Mbak Fitri, menjelaskan bahwa dari prospektif kami dilapangan khususnya di Kota Batu, perempuan itu yang menjadi masalah, dia bisa jadi golput karena kurangnya transformasi-informasi karena perempuan ini adalah eksekutif terutama ibu rumah tangga sehingga mungkin dia terlalu sibuk untuk mendengarkan informasi tentang pemilu ini, terutama orang desa, mereka tidak sempat nonton tv, terlalu sibuk dengan suami, dengan anak-anak, dengan urusan rumah tangga mereka. Yang kedua adalah bahwa ibu-ibu rumah tangga ini adalah saling kikuk dengan konflik rumah tangga mereka. Sibuk memikirkan konflik bagaimana menstabilkan penghasilan suami, karena rumitnya ibu-ibu ini tidak peduli dengan politik-politik yang lebih besar seperti politik negara, dan kalaupun mendengar informasi ibu-ibu itu lebih suka dengan informasi yang bersifat hiburan,
Pendapat lain kenapa terjadi Golput, bagi Fajar Santosa dalam kaca mata hukum, konstitusi kita memberi ruang yang cukup bahwa kebebasan menyampaikan pikiran, menyampaikan sikap itu dijamin benar oleh konstitusi kita. Dalam konteks Undang-undang 39 tahun 1999 itu juga menyatakan bahwa kebebasan warga negara mempunyai hak untuk memilih dan dipilih, jadi ketika kita bicara bahwa memilih itu sebuah hak maka hak itu bisa ditunaikan atau tidak ditunaikan juga. Justru yang saya amati tidak sedikit masyarakat yang percaya bahwa ternyata pemilu tidak merubah keadaan, pemilu tidak memberika kontribusi bagi perubahan-perubahan kehidupan mereka karena para politisi kita asyik dengan diri mereka sendiri jadi seolah-olah gedung dewan perwakilan rakyat itu sesuatu yang terpisah dengan jiwa rakyat sehingga masyarakat kemudian menjadi tidak percaya dengan proses-proses politik karena hidup mereka juga akan tetap seperti-seperti itu, tetapi hal ini adalah yang ingin saya sampaikan karena memilih merupakan hak setiap warga negara sehingga bisa ditolehkan maupun tidah ditolehkan maka bagi saya oleh karena masyarakat ini memilih atau tidak memilih dan kalaupun kita dorong parlemen watch mendorong kalaupun warga negara yang mengambil pilihan untuk tidak memilih yaitu bagian dari ekspresi mereka dan masyarakat yang ingin mengekspresikan hak politiknya dengan memilih parlemen watch juga mendorong bagaimana masyarakat kita memiliki kesadaran untuk menjadi pemilih yang cerdas dan bertanggung jawab sehingga bisa mengkritisi partai-partai yang menjadi kontestan atau caleg-caleg kita yang saat ini sedang berkampanye.
Lain dengan Teguh, akademisi ini menjelaskan bahwa Pemimpin itu dididik dengan perlawanan tapi dalam jangka pendek golput saya lihat adalah sia-sia. Kalaupun orang melakukan pilihan golput maka suara-suara yang masuk ke partai politik akan diambil oleh tema-teman masyarakat lain, tapi pada jangka panjang golput akan memberikan pendewasaan bagi penguasa. Namun pada jangka pendek ini tidak memberi kontribusi apapun, karena partisipasi partai politik akan menjadi sia-sia sebagai gerakan moral untuk perlawanan kepada penguasa. Saya sepakat itu tapi kemudian kalau ada tatanan taktis pengambilan keputusan dalam waktu dekat ini setelah pasca pemilu ini akan sia-sia. Mudah-mudahan suasana kampanye yang agak sepi ini dibuat suatu indikator menuju sepinya pemilih golput. Mudah-mudahan masyarakat bisa menggunakan hak pilihnya besok, kemudian bisa memilih sesuai dengan hati nurani tapi sebenarnya dapat dilihat track record dari para caleg yang akan dipilih
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















