SIMPUL - Konstruksi tentang perempuan sering memunculkan dikotomi antara peran domestik dan peran publik. Anggapan yang dipakai adalah perempuan memiliki peran namun produktif, dalam ukuran ekonomis (materi). Dalam anggapan inilah kemudian perempuan hanya dianggap sebagai konco wingking, karena...
Konstruksi tentang perempuan sering memunculkan dikotomi antara peran domestik dan peran publik. Anggapan yang dipakai adalah perempuan memiliki peran namun produktif, dalam ukuran ekonomis (materi). Dalam anggapan inilah kemudian perempuan hanya dianggap sebagai konco wingking, karena perannnya tidak menghasilkan apa-apa dalam hal materi. Dalam demokrasi, domestik atau publik bukan pilihan yang harus dipilih salah satu, bisa dipilih keduanya. Misalnya konstruk pemikiran masyarakat ini bisa dibenahi, bahwa keduanya mempunyai nilai yang sama. Bahwa peran domestik adalah pekerjaan yang sama nilainya peran publik. Namun rewardnya bukan dalam bentuk uang tetapi adalah penghargaan. Sementara itu di era demokrasi sekarang perempuan harus dikeluarkan dari wilayah domestik untuk diharuskan merebut peran publik. Karenanya keduananya adalah pilihan. Demikian yang disampaikan Jamilah, fasilitator Sekolah Demokrasi dalam sebuah talkshow di RRI, 28 Februari 2008.
Jamilah melanjutkan pemaparannya memberikan contoh. “Misalnya saya bergelar MA, kalau saya memilih domestik, bukan berarti saya dalam dominasi. Domestik adalah pekerjaan juga yang nantinya untuk menuju ke wilayah publik juga. Karena ini sebenarnya dalam keluarga, maka bagaimana ini bisa menjadi tim yang baik yang bisa membagi wilayah domestik dan publik ini dengan baik pula. Cara pandangnya yang harus diubah”, ungkap aktifis Pusat Studi Gender ini
Talkshow ini cukup menarik karena mengambil tema tentang gender, sebuah tema yang selalu menjadi isu sensitif di masyarakat. Dalam Talkshow kali ini juga menghadirkan 3 aktifis perempuan lainnya, yakni Siti Munfaqiroh (Dosen ABM), dan Happy Budi Febriasih (Direktur Komunitas Studi Gender Averroes).
Dalam kesempatan itu Happy bahwa dalam konteks peran gender, laki-laki dan perempuan seharusnya memiliki hak yang sama. Namun menurutnya, konstruksi masyarakat yang dipengaruhi oleh nilai-nilai dan tafsir agama-agama memarginalisasikan peran perempuan, menjadikan peran perempuan selalu bermasalah ketika harus terlibat dalam ruang publik. Akibatnya, perempuan menjadi tidak punya nilai tawar atas dirinya sendiri. “Menurut saya perempuan tidak kalah kemampuannya dengan laki-laki, tetapi perempuan tidak mendapatkan akses sebesar laki-laki. Dengan konstruk di masyarakat selama ini perempuan sulit untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan akses ekonomi yang bisa membuat perempuan lebih berdaya, Ungkapnya. Karena itulah Happy mengharapakan setidaknya ada visi kebijakan yang memberikan ruang ekpada peremuan sehingga perannya tidak selalu dimarginalisasi.
Jamilah melanjutkan pemaparannya memberikan contoh. “Misalnya saya bergelar MA, kalau saya memilih domestik, bukan berarti saya dalam dominasi. Domestik adalah pekerjaan juga yang nantinya untuk menuju ke wilayah publik juga. Karena ini sebenarnya dalam keluarga, maka bagaimana ini bisa menjadi tim yang baik yang bisa membagi wilayah domestik dan publik ini dengan baik pula. Cara pandangnya yang harus diubah”, ungkap aktifis Pusat Studi Gender ini
Talkshow ini cukup menarik karena mengambil tema tentang gender, sebuah tema yang selalu menjadi isu sensitif di masyarakat. Dalam Talkshow kali ini juga menghadirkan 3 aktifis perempuan lainnya, yakni Siti Munfaqiroh (Dosen ABM), dan Happy Budi Febriasih (Direktur Komunitas Studi Gender Averroes).
Dalam kesempatan itu Happy bahwa dalam konteks peran gender, laki-laki dan perempuan seharusnya memiliki hak yang sama. Namun menurutnya, konstruksi masyarakat yang dipengaruhi oleh nilai-nilai dan tafsir agama-agama memarginalisasikan peran perempuan, menjadikan peran perempuan selalu bermasalah ketika harus terlibat dalam ruang publik. Akibatnya, perempuan menjadi tidak punya nilai tawar atas dirinya sendiri. “Menurut saya perempuan tidak kalah kemampuannya dengan laki-laki, tetapi perempuan tidak mendapatkan akses sebesar laki-laki. Dengan konstruk di masyarakat selama ini perempuan sulit untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan akses ekonomi yang bisa membuat perempuan lebih berdaya, Ungkapnya. Karena itulah Happy mengharapakan setidaknya ada visi kebijakan yang memberikan ruang ekpada peremuan sehingga perannya tidak selalu dimarginalisasi.
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















