SIMPUL - Peran dan komitmen wakil rakyat masih diragukan oleh masyarakat baik konteks kinerja maupun moralitas. Hal ini muncul sebagai akibat dari belum kuatnya sistem kontrol rakyat atau konstituen yang mengawasi kinerja dewan. Minimnya komunikasi antara wakil rakyat di DPR/DPRD dengan pemilihnya...
Peran dan komitmen wakil rakyat masih diragukan oleh masyarakat baik konteks kinerja maupun moralitas. Hal ini muncul sebagai akibat dari belum kuatnya sistem kontrol rakyat atau konstituen yang mengawasi kinerja dewan. Minimnya komunikasi antara wakil rakyat di DPR/DPRD dengan pemilihnya (konstituen) menunjukkan lemahnya akuntabilitas wakil rakyat terhadap konstituennya. Fakta yang terjadi adalah wakil rakyat lebih merasa bertanggung jawab kepada partainya daripada kepada rakyatnya. Akntabilitas wakil rakyat inilah yang diangkat dalam talkshow Sekolah Demokrasi XI tahun III 10 Juli 2008 di Studio I RRI yang dihadiri oleh . Susianto, SH., MH (Lakumham DPC PD Kabupaten. Malang), Kholilatul Ummah, S.Ag, dan. Wahyu Indriyanti,(sekretaris PAC PDIP Kec. Lawang).
Dalam kesempatan ini Wahyu Indriyanti menyatakan bahwa yang paling mendasar adalah upaya peningkatan kesadaran terhadap rakyat. Jika rakyat mempunyai kesadaran politik maka dengan sendirinya kontrol itu akan muncul dari rakyat. Untuk itulahpendidikan politik harus dilakukan oleh semua komponen bangsa ini. Terlebih dengan adanya semangat otonomi daerah dan demokrasi peran rakyat dalam melakukan kontrol semakin terbuka lebar.
Sementara itu Susianto melihat bahwa proses politik yang dilakukan oleh anggota dewan senantiasa penuh engan kebohongan dan manupulasi. Rasa malu, khianat, sombong, dan sebagainya tidak lagi menjadi hal yang tabu bagi para elit politik. Pemilu yabn\ng nampaknya demokratis menurut Susianto nyatanya menyimpan berbagai kebusukan dan pembodohan terhadap rakyat. Tak heran jika masih banyak anggota dewan produk reformasi saat ini tidak lebih baik daripada era-era sebellumnya. Karena dilihat dari proses sudah tidak mengedepankan nilai-nilai yang demokratis bahkan nilai moralpun lenyap demi mementingkan urusan pribadi.
Dalam kesempatan ini Wahyu Indriyanti menyatakan bahwa yang paling mendasar adalah upaya peningkatan kesadaran terhadap rakyat. Jika rakyat mempunyai kesadaran politik maka dengan sendirinya kontrol itu akan muncul dari rakyat. Untuk itulahpendidikan politik harus dilakukan oleh semua komponen bangsa ini. Terlebih dengan adanya semangat otonomi daerah dan demokrasi peran rakyat dalam melakukan kontrol semakin terbuka lebar.
Sementara itu Susianto melihat bahwa proses politik yang dilakukan oleh anggota dewan senantiasa penuh engan kebohongan dan manupulasi. Rasa malu, khianat, sombong, dan sebagainya tidak lagi menjadi hal yang tabu bagi para elit politik. Pemilu yabn\ng nampaknya demokratis menurut Susianto nyatanya menyimpan berbagai kebusukan dan pembodohan terhadap rakyat. Tak heran jika masih banyak anggota dewan produk reformasi saat ini tidak lebih baik daripada era-era sebellumnya. Karena dilihat dari proses sudah tidak mengedepankan nilai-nilai yang demokratis bahkan nilai moralpun lenyap demi mementingkan urusan pribadi.
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















