SIMPUL - Talkshow RRI XI dilaksanakan pada 14 Desember 2006. Tema “Penguatan Lembaga Masyarakat Sipil dalam Membangun Demokrasi di Kabupaten Malang (Sebuah refleksi terhadap rencana pembentukan Komite Komunitas)” sebagai tahap awal dalam upaya refleksi terhadap peran-peran lembaga masyarakat...
Talkshow Talkshow RRI XI dilaksanakan pada 14 Desember 2006. Tema “Penguatan Lembaga Masyarakat Sipil dalam Membangun Demokrasi di Kabupaten Malang (Sebuah refleksi terhadap rencana pembentukan Komite Komunitas)” sebagai tahap awal dalam upaya refleksi terhadap peran-peran lembaga masyarakat sipil dan mensosialisasikan komite komunitas untuk demokrasi di kabupaten Malang. Dipandu oleh presenter dari RRI Malang bapak Buang Efendi. Kesempatan pertama diberikan kepada narasumber pertama Sutomo menjelaskan bahwa munculnya lembaga-lembaga masyarakat sipil saat ini merupakan bagian terpenting di era demokratisasi. Karena telah lama masyarakat merasa dikebiri oleh kekuasaan yang senantiasa mementingkan kekuasaan tanpa memperhatikan kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Ditegaskan pula bahwa dalam rangka mewujudkan cita-cita luhur bangsa ini yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan melalui sistem yang demokratis. Seperti yang telah dilakukan Program Penguatan Simpul Demokrasi (PPSD) di Kabupaten Malang, dengan melaksanakan kegiatan sekolah demokrasi (SD) bagi seluruh stakeholders di Kabupaten Malang agar mampu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam rangka membumikan nilai-nilai demokrasi di kalangan basisnya. Sehingga akan lebih efektif dalam rangka menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat untuk berdemokrasi. Narasumber kedua, diberikan kepada Gunawan sebagai representasi dari kalangan LSM, beliau menjelaskan tentang komitmen dan konsistensi lembaga-lembaga masyarakat sipil untuk senantiasa memberikan pendidikan dan penyadaran melalui pemberdayaan disemua kalangan masyarakat. Sehingga yang diperlukan saat ini adalah bukannya kata-kata, namun tindakan riil dari semua stakeholders di Masyarakat baik dari kalangan LSM, Pemerintah, kalangan Bisnis dan lembaga politik agar bersinergi dalam mewujudkan demokrasi. Nara sumber ketiga Wahyu Trihariyadi, juga aktivis LSM yang mencoba untuk memaparkan sejarah munculnya lembaga masyarakat sipil yang seperti jamur di musim hujan dan peran-peran yang urgent di era demokrasi seperti saat ini.
Selama kurun waktu 25 menit terdapat 3 tanggapan dan penanya dari masyarakat yang ikut interaktif, yaitu: 1). Bapak Agus, dari Malang, menanyakan tentang pada semangat demokrasi yang tidak meninggalkan rasa nasionalisme masyarakat. Masalah yang paling mendasar adalah dengan semangat demokrasi justru semakin mengaburkan nasionalisme kita terhadap bangsa dan negara ini. Nah, bagaimana seiring dengan membangun demokrasi juga dipupuk rasa nasionalisme yang tinggi kepada masyarakat dan khususnya bagi generasi muda. 2). Bapak Khoirul Anwar dari Blimbing, beliau mengomentari tentang upaya demokratisasi yang dilakukan oleh pemerintah saat ini justru hanya setengah hati. Hal ini terbukti dengan gaya kepemimpinan dan model pembangunan yang senantiasa kekuasaan tetap sebagai penentu kebijakan. Kalau toh ada hanya sifatnya formalistik dan tidak pernah menyentuh substansi dari permasalahan tersebut. Sehingga harapannya dengan model pembangunan Buttom Up (dari bawah) negara atau daerah mampu mewujudkan cita-cita yang luhur yaitu kondusif, bagus, menarik, dan membawa kemaslahatan. Dari gambaran di atas kira-kira dimulai dari mana dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut. Dan penanya ke tiga, Bapak Agus dari Mojolangu, beliau lebih banyak memberikan komentar dan masukan terhadap permasalahan yang ada saat ini. Beliau menegaskan bahwa masalah di negara kita ini adalah seluruh elemen masyarakat, baik yang ada di pemerintahan, lembaga politik, kalangan bisnis dan masyarakat itu sendiri. Solusi yang paling efektif adalah bagaimana kita mampu untuk mengajajak keseluruhan pihak untuk bersama-sama berfikir dan berbuat untuk kepentingan bersama pula. Seperti yang telah dilakukan oleh teman-teman di Averroes. Memang hasilnya tidak bisa kita lihat saat ini pula, namun jika saya perhatikan sudah menemukan pesemaian-pesemain aktor dalam mewujudkan demokrasi.
Tanggapan narasumber, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa benar demokrasi harus dibangun secara bersama-sama oleh kalangan masyarakat, baik dari pemerintah, kalangan bisnis, lembaga politik dan lembaga-lembaga masyarakat sipil itu sendiri. Dengan adanya sinergi dari semua pihak maka tujuan tersebut akan lebih mudah untuk dicapai. Namun sebaliknya jika elemen tersebut tidak bisa bersinergi, maka tidak akan pernah terwujud apa yang menjadi cita-cita kita bersama, yaitu tatanan yang demokratis, sejahtera dan mendapatkan keadilan.
Selama kurun waktu 25 menit terdapat 3 tanggapan dan penanya dari masyarakat yang ikut interaktif, yaitu: 1). Bapak Agus, dari Malang, menanyakan tentang pada semangat demokrasi yang tidak meninggalkan rasa nasionalisme masyarakat. Masalah yang paling mendasar adalah dengan semangat demokrasi justru semakin mengaburkan nasionalisme kita terhadap bangsa dan negara ini. Nah, bagaimana seiring dengan membangun demokrasi juga dipupuk rasa nasionalisme yang tinggi kepada masyarakat dan khususnya bagi generasi muda. 2). Bapak Khoirul Anwar dari Blimbing, beliau mengomentari tentang upaya demokratisasi yang dilakukan oleh pemerintah saat ini justru hanya setengah hati. Hal ini terbukti dengan gaya kepemimpinan dan model pembangunan yang senantiasa kekuasaan tetap sebagai penentu kebijakan. Kalau toh ada hanya sifatnya formalistik dan tidak pernah menyentuh substansi dari permasalahan tersebut. Sehingga harapannya dengan model pembangunan Buttom Up (dari bawah) negara atau daerah mampu mewujudkan cita-cita yang luhur yaitu kondusif, bagus, menarik, dan membawa kemaslahatan. Dari gambaran di atas kira-kira dimulai dari mana dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut. Dan penanya ke tiga, Bapak Agus dari Mojolangu, beliau lebih banyak memberikan komentar dan masukan terhadap permasalahan yang ada saat ini. Beliau menegaskan bahwa masalah di negara kita ini adalah seluruh elemen masyarakat, baik yang ada di pemerintahan, lembaga politik, kalangan bisnis dan masyarakat itu sendiri. Solusi yang paling efektif adalah bagaimana kita mampu untuk mengajajak keseluruhan pihak untuk bersama-sama berfikir dan berbuat untuk kepentingan bersama pula. Seperti yang telah dilakukan oleh teman-teman di Averroes. Memang hasilnya tidak bisa kita lihat saat ini pula, namun jika saya perhatikan sudah menemukan pesemaian-pesemain aktor dalam mewujudkan demokrasi.
Tanggapan narasumber, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa benar demokrasi harus dibangun secara bersama-sama oleh kalangan masyarakat, baik dari pemerintah, kalangan bisnis, lembaga politik dan lembaga-lembaga masyarakat sipil itu sendiri. Dengan adanya sinergi dari semua pihak maka tujuan tersebut akan lebih mudah untuk dicapai. Namun sebaliknya jika elemen tersebut tidak bisa bersinergi, maka tidak akan pernah terwujud apa yang menjadi cita-cita kita bersama, yaitu tatanan yang demokratis, sejahtera dan mendapatkan keadilan.
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















