
Bulan Agustus 2010 ini kita akan disemarakan dengan berbagai acara peringatan hari kemerdekaan negeri ini. Ya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus tahun ini bangsa kita memperingati hari kemerdekaannya yang ke-65. Berbagai acara seremonial biasanya akan menghiasai hari itu, mulai dari upacara kemerdekaan hingga lomba-lomba yang digelar oleh warga kampung. Namun diluar itu semua, sebuah pertanyaan yang sama hampir dikemukakan oleh banyak kalangan setiap tahunnya yakni apakah makna kemerdekaan benar-benar sudah dirasakan oleh semua rakyat Indonesia? Merdeka dari kebodohan, merdeka dari penindasan dan tentu saja merdeka dari kemiskinan.
Nah dalam edisi Bulan Agustus ini, Newsletter Simpul Demokrasi mencoba menyajikan potret kemiskin-an di Kota Batu. Tema tersebut memang sengaja kami angkat untuk merefleksikan apakah makna merdeka dari kemiskinan sudah dirasakan oleh masyarakat kota itu. Berbagai data kemiskinan dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan komentar dari Pemerintah Kota Batu kami ulas dan kami sajikan dalam laporan utama edisi kali ini. Untuk tampilan data dalam Newsletter edisi ini kami coba buat berbeda dengan menggambarkan dalam bentuk grafis-grafis. Harapannya pembaca lebih mudah memahami angka-angka itu.
Tak lupa kami juga menampilkan satu desa di kota ini yang menurut BPS dikategorikan sebagai desa yang masuk zona merah (tingkat kemiskinan tinggi). Harapannya potret kemiskinan di Kota Batu dapat tergambarkan dengan jelas. Cita-cita kecil kami dengan gambaran itu banyak pihak yang tersentuh dan dalam perjalanan waktu mendatang muncul kebersamaan untuk mengentaskan atau minimal usaha untuk mengurangi angka kemiskinan di kota ini. Bagai-manapun juga, untuk mengentaskan masyarakat dari jurang kemiskinan diperlukan sinergisitas dari semua pihak, baik itu kalangan pemerintah, civil society maupun agamawan.



















