SIMPUL - Berikut ini adalah hasil wawancara Siti Lailatus Sofiyah dengan H. M. Mas’ud Said, Ph.D. Gendrang pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur sebentar lagi akan di tabuh, tepatnya tanggal 23 Juli 2008.
Saat ini masih on the move dalam tahap pencalonan gubernur dan wakil gubernur. Pasangan calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) diantaranya adalah SALAM (Sunaryo dan Ali Machan Musa), SR (Sudjipto dan Ridwan Hisjam), KarSa( Sukarwo dan Syaifullah Yusuf),
Achsan (Achmadi dan Soehartono), Ka-Ji (Khofifah Indar Parawansa dan Mujiono).
Dalam proses ini KPU harus menyeleksi dari sekian calon yang akan maju dalam proses demokrasi di wilayah Jatim. Menurut Mas’ud Said, ada 3-4 calon yang sangat siap secara ATM (Anggaran, teknologi kampanye, dan manusianya), apakah calon yang diusung adalah layak saing: SALAM, SR, KarSa, dan Ka-ji. Disamping itu figur juga menjadi penting, karena masyarakat menfigurkan calon, bahkan setahun yang lalu telah diangkat. Namun pasangannyalah , calon wakil gubenur, yang masih perlu dilakukan. Karena menyatukan dua bahkan banyak kepentingan partai tidaklah mudah untuk menyamakan mesin-mesin politik cukup rumit, meskipun semua pasangan punya basis massa yang banyak.
Namun, Cak Ud; panggilan akrabnya, menuturkan bahwa masyarakat pun bingung, karena pilgub Jatim ini tidak seperti memilih presiden dan legislatif tahun 2004. Fenomena ini merupakan masa transisi dan pancaruba yang sangat cepat. Sehingga masyarakat menerima apa adanya, tetapi mereka belum bisa memutuskan jauh-jauh hari siapa yang akan dipilih. Pilihan itu akan ditentukan seminggu sebelum pencoblosan, terutama massa mengambang.
Tidak semua pasangan calon bisa mendekati masyarakat dari 38 kota/kabupaten. Memang secara formal mereka kawal untuk mendekati kota/kabupaten, namun belum tentu mereka bisa mendatangi semua kecamatan, begitu pula jika mereka bisa mendekati kecamatan, belum tentu bisa mendekati desa/kelurahan, pun demikian dalam masyarakat desa/kelurahan. Sehingga pendekatannya sangat elitis, hanya tokoh-tokoh kelompok yang ada di masyaakat.
Pengamat politik ini Semua partai terpolerisasi, karena masing-masing pasangan calon fenomena lapangan dan struktural, artinya secara formal partai A merekomendasikan si Fulan (Red: bukan nama asli), tetapi basis partai A dilapangan menfigurkan calon lain yang tidak direkomendasikan oleh partai A, begitu pula dengan partai dan basis partai-partai lainnya. Sehingga para kandidat hanya melakukan pendekatan elitis, yang tentunya belum menjamin untuk bisa sampai pada tataran masyarakat bawah.
Berdasarkan informasi di lapangan, tambah pria lulusan doktoral Australia, bahwa munculnya pasangan Ka-Ji menjadi perhatian serius bagi para pasangan calon gubernur dan wakil gubernur lainnya. Khofifah yang menjadi icon perempuan NU, tentunya mempunyai gerbong yang sangat banyak.
Jawa Timur merupakan experience yang luar biasa dalam berdemokrasi, karena luar negeri Malaysia, Thailan, Brunai Darussalam, dan Singapura belum bisa seperti di Indonesia. Memang perkembangan ekonomi kita masih terpuruk, manun dinamika politik local masyarakat Indonesia sangat bagus dan mengalami ‘perubahan dramatik’ yang luar biasa, jelas dosen kampus putih sembari mengakhiri perbincangan ini.
Komentar |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
|





















